kita tahu banyak hal didunia ini yang tidak terduga, terutama masa depan. saat kita masih berumur 6 tahun kita sering mendapat pertanyaan 'apa cita-cita kamu?' atau 'kalau nanti besar mau jadi apa?'. saat itu lidah kita akan mudah menjawab apapun yang kita inginkan untuk menjadi apa yang dicita-citakan. saat masa itu kita berfikir dunia sangatlah mudah bukan? kita tertawa dengan ringan tanpa memikirkann beban kehidupan yang kita tahu hanyalah besok hari akan tiba dan membiarkan waktu berlalu begitu saja.
seiring berjalannya waktu kita beranjak remaja masa dimana kita melangkah lebih maju mengenal dunia, pada masa ini memang masa yang tidak semudah masa kecil kita karena pada masa ini kita sudah mendapat tanggung jawab kecil, pada masa ini juga perlahan cita-cita yang dulu kita sebut-sebut semasa kecil mulai memudar. penyebabnya mungkin kita mengenal dunia baru yang lebih asik, pertemanan, lingkungan sekolah maupun pelajaran baru yang kita dapat. contoh : 'saat waktu kecil kita ingin menjadi seorang pilot, dokter, ataupun suster ketika kita tahu bahwa ada pelajaran yang harus kita kuasai seperti fisika, kimia atau matematika tiba-tiba minat itu berkurang karena pelajaran tersebut merupakan pelajaran yang sulit dan kita mulai tidak percaya diri akan hal itu'
setelah itu kita masuk ke dunia yang disebut masa-masa terindah yaitu SMA, ya memang SMA merupakan masa yang indah karena pada masa ini adalah masa dimana kita mendapat banyak pengalaman, mungkin pengalaman organisasi yang lebih tinggi, pengalaman mendapat pelajaran khusus seperti penggolongan kelas IPA/IPS, teman-teman baru yang memberikan pengetahuan dalam beberapa hal. tapi pada saat ini jugalah saat yang paling membingungkan untuk menggambarkan apa mimpi kita, bisakah kita menggapainya jika kita memimpikan hal itu, apakah benar jalan ini yang akan saya ambil, bagaimana masa depan saya jika saya memilih jalan ini. and see kebanyakan orang lupa pada cita-cita masa kecilnya, mungkin beberapa orang akan konsisten dengan cita-cita nya karena sadar bahwa dirinya mampu untuk menggapainya. tapi lebih banyak orang lebih mengambil jalan aman yaitu menempuh cara 'pilih aja yang lebih cepat dapat kerja'. ya memang betul mungkin kita akan mendapat kerja dengan mudah, tapi apakah sampai sana saja kah keinginan kita, tidak kah itu terlalu biasa? bukankah kita ingin menjadi seseorang yang spesial?
lalu kita masuk ke perguruan tinggi dan bekerja tapi tidak sesuai dengan kemauan karena ketidak percaya diriannya.
lalu kemana kah cita-cita yang ingin kita bangun? selama kita masih bernafas cita-cita itu selalu ada namun keinginan dan kepercayaan untuk menggapainya yang mungkin tidak ada.
saat kita mencoba untuk menjadi seorang yang tidak biasa dan menggapai cita-cita kita begitu banyak cobaan, diremehkan atau kegagalan, sampai pada titik kita ingin menyerah dan putus asa. kita tidak pernah tahu seberapa lama cobaan ini berlangsungmungkin 1 tahun, 2 thn atau 10 thn tapi satu keyakinan yang selalu harus ditanamkan bahwa ini adalah sebuah proses yang nantinya akan kita hargai dan hasil tidak akan pernah menghianati usaha dan proses.
memang menanamkan kepercayaan diri bahwa kita bisa itu tidaklah mudah dan kadang realita mengalahkan keyakinan bahwa kita bisa. tapi bukankah kita akan menyesal pada masa depan jika kita tidak mencobanya?
ini hanya sekedar opini saya mengenai proses masa depan dan cita-cita, salah satu quotes yang saya ingat adalah "didunia ini terdiri dari dua jenis manusia: lucky person and fighter" dan saya berharap menjadi seorang fighter yang akan memenangkan sebuah pertandingan dimasa depan.
Selasa, 08 Desember 2015
Selasa, 01 Desember 2015
CINTA DUA SISI
“Farah….. kemari” mama memanggilku seperti biasanya dengan teriakan khasnya
Aku hanya bisa berdiri dihadapannya tanpa berbicara ataupun menjawab panggilannya
“Farah, mama akan pulang pagi, kamu jangan lupa kunci rumah, jangan lupa belajar dan jangan tidur larut malam” mama memerintahku setiap malam ketika dia ingin pergi dan seperti biasa aku hanya mengangguk dan meninggalkannya kekamar tanpa menoleh ataupun bertanya kemana dia akan pergi.
“Farah…..” sepertinya ia kembali memanggilku, aku menoleh dan menatapnya dengan sorot mata yang menyebalkan
“apa?” aku mencoba mempersingkat pembicaraanku dengannya
“Farah, pergilah tidur, kalau kau sakit aku yang repot” ia pun pergi berlalu hilang dibalik pintu
“sepertinya dia terpaksa merawatku” desahku sambil kembali menaiki anak tangga
aku menyenderkan kepalaku dimeja belajar, setiap malam aku selalu bergulat dengan pikiranku dan selalu tentang mama, ia membuat hidupku sunyi, gelap dan tanpa cahaya. Setiap malam ia akan pergi dengan dandanan yang mencolok dan akan kembali dipagi hari dengan penampilan berantakan.
Terkadang aku merasa dunia ini tidak adil karena hidupku tak sebahagia Dian sahabatku yang juga tetanggaku, ia mempunyai orangtua yang lengkap dan mama yang baik seperti tante Jihan, tidak jarang tante Jihan menyuruhku untuk sarapan pagi bersama keluarganya karena tante Jihan tahu betul tentang keluargaku,tante Jihan adalah sahabat mama dari mereka SMA.
Tok..tok….
Terdengar seperti ada yang mengetuk pintu kamarku, dan aku sudah biasa akan hal itu karena aku tahu Dian pasti sedang berada didepan kaca jendelaku dengan tangga milik pak Usman tukang kebun tante Jihan, aku membuka jendela dan sudah terlihat senyum mengembang Dian yang bersiap-siap memanjat jendela kamarku.
“Farah, please gue hari ini nginep lagi yanh dirumah lo? Gue mau nonton drama Korea terbaru nih secret garden, tapi nyokap gue pasti ngomel-ngomel kalau gue begadang nonton film, gue nginep disini yah?” seperti biasa Dian selalu menginap dirumahku ketika dia sedang ingin menonton drama-drma Koreanya
“oke, tapi inget jangan buang-buang tissue yah buat ngelap air mata lo” setiap Dian menonton drama Korea dia akan menangis dan menghabiskan tissue atau menghapus air matanya dengan sselimutku
“tenang aja gue udah nyiapin tissue dari rumah” Dian menunjukan kotak tissue miliknya
Sementara Dian sedang sibuk dengan drama Koreanya, aku mencoba tidur dan melupakan problema hidupku
“Dian, Farah bangun” aku mendengar suara lembut yang sedang membelai kepalaku, aku membuka mataku terlihat sosok manis tante Jihan
“Farah ayo bangun nak, nanti kamu telat kesekolah. Maaf yah tante masuk kamar kamu tanpa permisi soalnya pintu depan gak terkunci sepertinya mama kamu udah pulang dan kalian susah banget dibangunin” jelas tante Jihan sambil membereskan tissue yang berserakan yang dibuat anaknya Dian
“iya gak apa-apa tante”aku selalu senang diperhatikan tante Jihan, Dian beruntung sekali mempunyai mama sebaik tante Jihan
Setelah Dian dan tante Jihan pulang aku bersiap-siap berangkat kesekolah dan seperti biasa aku selalu membawa MP3 player hadia yang diberikan tante Jihan saat aku berulangtahun yang ke18, setelah semua siap aku segera mempercepat langkahku untuk sarapan bersama keluarga tante Jihan.
Aku menuruni anak tangga dan mendengar suara-suara bising dari dapur, rasa penasaran menyelubungi batinku yang membuat kakiku melangkah kedapur. Aku melihat mama sedang memasak dengan rokok dimulutnya, mama seperti sadar aku perhatikan ia menoleh kepadaku dan aku salah tingkah dengan situasi ini.
“Far, mama masakin kamu nasi goreng” mama masih mengaduk nasi gorengnya dengan rokok dimulutnya
“aku mau sarapan dirumah tante Jihan” aku membalikan tubuhku dan meninggalkan mama didapur, perasaanku bercampur aduk setiap kali melihat mama dengan rokoknya entahlah yang jelas aku berfikir aku bahagia tanpa mama.
“ayo Farah susu kamu sudah mulai dingin tuh” tante Jihan menyodorkan segelas susu padaku
“makasih tante” aku selalu bahagia bersama keluarga ini dengan Dian,tante Jihan, om Roy
“bagaimana mama kamu Farah? Apa dia masih begitu?” tante Jihan yang sedang menemaniku sarapan bertanya soal mama
“mama masih seperti biasa, menyebalkan dan tentu saja menyedihkan” jawabku asal
Om Roy dan tante Jihan saling berpandangan “jangan berbicara seperti itu Farah, bagaimanapun dia tetap mamamu?” om Roy mencoba menenangku
Aku hanya mengangkat bahuku, Karena aku sedang tidak ingin merusak kebahagiaanku saat ini karena membicarakan tentang mama
Mama merupakan mimpi buruk untukku aku berhrap aku tidak pernah mempunyai mama seperti dia, dia menyebalkan dan yang jelas aku tidak suka pekerjaannya yang seorang wanita penghibur
Aku berjalan menyusuri lantai dengan malas, aku sama sekali tidak mendengerkan Dian mengoceh tentang drama yang ia tonton semalam,
Fikiranku melayang pada mama. Bagaimana perasaan mama tadi saat aku lebih memilih untuk sarapan dirumah tante Dian, ini pertama kalinya semenjak aku duduk di Taman Kanak-kanak mama membuat sarapan untukku lagi.
Aku duduk dan meletakkan tasku diatas meja dan menopang wajahku dengan satu tangan, fikiranku masih melayang-layang, tiba-tiba saja aku merasa seseorang memperhatikanku dari sudut mataku, Ryo sedang memperhatikanku? Apakah aku hanya kepedean? Aku melihat kesekeliling kelas, hanya aku dan Rio? Kemana yang lain?. Aku mencoba tersenyum Ryo membalas senyumanku “lo gak ikut latihan upacara?”
“Apa? latihan upacara kok gak ada yang ngasih tau gue yah?”
“tadi Dian manggil lo dari depan kelas cuman lo nya gak denger jadi dia tinggal” Ryo menjawab sambil membaca bukunya
“lo gak latihan Yo?” aku memberanikan diri berjalan mendekat Ryo, ini pertama kalinya aku mencoba mendekatinya dalam radius satu meter.
“engga” Ryo menoleh kearahku dan tersenyum, “astaga Tuhan senyumnya” aku berseru sendiri didalam hatiku
Tiba-tiba Ryo beranjak dari kursinya “kalau lo ada masalah sebaiknya lo ceritain jangan dipendem sendiri yah? Kalau lo mau gue bisa bantu lo” Ryo merobek bukunya dan menuliskan sesuatu “nih” setelah memberikan kertas itu ia pergi
Aku menatap punggungnya hingga bayangannya hilang dibalik pintu aku begitu penasaran dengan kertas yang kupegang saar ini perlahan aku membuka kertas itu dan ya Tuhan dia memberikanku nomor handphone nya, tapi apa aku harus memberitahu Dian? Kurasa tidak perlu pasti kami akan bertengkar karena Ryo, lebih baik aku menyimpan cerita ini sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang senyumanku tak pudar sedikitpun, saat aku ingin membuka pintu rumahku, aku seperti mendengar suara mama sedang merintih kesakitan, aku berjalan pelan menuju arah suara itu, suara itu berasaldari dapur semakin aku mendekat semakin kencang suara rintihan mama.
Betapa terkejutnya aku melihat mama sedang tergeletak dilantai dan hidungnya mengeluarkan darah, ini pertama kalinya aku merasakan panic seperti ini, aku berlari ingin membantu mama namun langkahku terhenti.
“berhenti disana! Jangan dekati saya” mama melarangku membantunya dengan tatapan yang nanar. Mama berusaha berdiri sendiri dengan susah payah, namun alhasil badan mama jatuh lunglai tak sadarkan diri
“mama…” suara tangisanku memenuhi lorong rumah sakit, mama dirawat diruang Unit Gawat Darurat sudah satu jam tapi kenapa dokter tidak keluar juga dan memberitahu keadaan mama.
Tiba-tiba terdengar suara Dian, tante Jihan dan Om Roy memanggil namaku, tante Jihan memelukku dan aku tak kuasa meleburkan tangisanku didalam dekapan tante Jihan, selang beberapa menit kemudian seseorang laki-laki tua dengan jas putih keluar dari ruang unit gawat darurat, tanpa sadar aku berlari kearah dokter itu berdiri “dok gimana keadaan mama? Apa yang terjadi?”
Dokter itu menjawab dengan tenang “kemungkinan besar mama kamu sudah lama mengidap HIV aids tapi tidak pernah memeriksa atau menindaklanjuti penyakit ini, dan sekarang pertahanan tubuhnya sudah sangat menipis”
Jantungku terasa terhantam kakiku lemas otakku tak dapat berfikir dan mulutku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata ingin rasanya aku mencaci maki dokter tua ini, aku yakin bahwa ia berbohong namun apa daya aku tak mempunyai kekuatan untuk mengatakannya dan sekarang mataku perlahan menjadi gelap dan aku tidak dapat melihat siapapun dan akhirnya tak sadarkan diri.
Aku merasakan kepalaku seperti habis terbentur benda tumpul, badanku terasa sakit, dan mataku sangat berat untuk dibuka, aku berada dikamarku? Apa aku semalam bermimpi? Aku selalu berharap begitu namun harapan itu kandas karena tante Jihan dengan mata sembab datang kekamarku.
“Farah, kamu harus kuat supaya mama kamu juga kuat yah saying, semalam kamu pingsan dan tante piker kamu lebih baik tenang sesaat dirumah”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi aku hanya bisa menggenggam tangan tante Jihan
“sebaiknya kamu sarapan sekarang, tante udah siapin sarapan. Oiya kamu gausah khawatir dirumah sakit om Roy yang jagain mama kamu, setelah selesai sarapan nanti kita kerumah sakit” tante Jihan hilang dibalik pintukamarku.
Aku menuruni anak tangga, ketakutan menggeliat dibatinku biasanya saat aku turun mama sedang merokok diruangtamu dengan gaya khas nya dan sekarang aku hanya melihat asbak kosong yang bersih, aku menoleh kekamar mama yang pintunya tidak tertutup rapat, rasa penasaran menyeruak dihatiku karena aku sama sekali tidak pernah memasuki ruangan yang menurutku asing tersebut.
Aku membuka pintu kamar mama, aku mencium wangi khas parfume mama. Lalu aku berjalan mendekati lemari mama dan membukanya, aku melihat sebuah buku, tak sabar aku membukanya
Halaman pertama ada foto mama bersamaku dan menurutku ini terakhir kali kami berfoto bersama, aku membuka halaman berikutnya.
30 Desember 2006
“tuhan cobaan terberat dalam hidup saya adalah menjadi seorang penderita HIV, aku akan kehilangan segalanya, bahkan karena penyakit ini aku tidak dapat memluk putri kesayanganku Farah, selama ini aku selalu menghindar darinya aku takut dia terkena penyakit menjijikan ini, aku sudah cukup mengahncurkan masa remajanya, apakah ini teguranmu tuhan?
21 Januari 2012
“Farah sayang maafin mama yah, kamu pasti malu tadi mama jemput disekolah, maafin mama kalau mama seorang pelacur sayang, tapi semua ini mama persiapin buat kamu, kamu harus menjadi yang terbaik agar tidak seperti mama, oiya hari ini kamu terlihat cantik sayang, kamu memakai gaun kepesta ulangtahun Dian, mama ingin sekali memeluk kamu, bagaimana rasanya memeluk anak mama yang udah beranjak dewasa”
4 Februari 2012
“hari ini kamu menghiraukan mama lagi sayang, Farah kamu bukan anak haram sepertiyang dicerotakan orang-orang, kamu punya ayah namun ayah kamu meninggalkan kamu saat kamu bayi dan hal itu yang menyebabkan mama menjadi wanita penghibur, tapi bagaimana mama menjelaskannya sayang”
7 Maret 2012
“tuhan dengan siapa aku berbagi rasa sakit ini, badanku terasa lelah harus menahan sakit ditubuhku, tadi siang Farah hampir melihatku tak berdaya tapi aku malah memarahinya saat ia ingin membantuku, aku tidak mau dia menyentuh tubuhku yang menjijikan ini”
19 Agustus 2012
“selamat ulang tahun Farah sayang, mama mendoakan yang terbaik untuk kamu dan doa mama selalu menyertai kamu, mama udah nyiapin kado yang mama titipin ke tante Jihan, sebuah Ipod kamu suka nyanyi kan sayang, tapi mama gak mau kamu tau itu hadiah dari mama, karena kamu pasti akan menolaknya, Happy birthday my Little Angle”
Aku tidak kuat lagi untuk membacanya, aku memeluk dengan erat buku harian mama. Tanpa berfikir panjang aku mengambil kunci mobil dan menuju rumah sakit.
Aku membuka pintu kamar rumah sakit yang dingin perlahan, aku melihat mama sedang menatap bebas keluar jendela, mama menoleh kearahku dengan tatapan bingun namunsepertinya mama menyadari aku memegang diary nya.
Mama tersenyum pilu “mama gak apa-apa sayang”
Tanpa berfikir panjang aku memeluk mama dengan erat “mama, aku gak peduli mama itu siapa? Perkerjaan mama apa, aku cuman mau mama tetap disini, aku cuman mau mama, gak ada yang aku pinta ma”
Rasanya hangat sekali memeluk mama seperti ini walaupun menyesakan namun belaian mama membuat aku tenang “sayang, mama punya permintaan boleh?”
Aku mengangkat kepalaku dan melihat mama yang masih tersenyum “apa ma?”
“nyanyikan sebuah lagu untuk mama, tapi sesudah kamu bernyanyi kamu harus membaca diari halaman terakhir mama yah sayang” mama kembali membelai rambutku
Aku mengangguk dan mulai bernyanyi
“apa yang kuberikan untuk mama, untuk mama tersayang, tak kumiliki sesuatu berharga untuk mama tercinta, janya ini kunyanyikan lagu cintaku hanya untuk mama hanya sebuah lagu sederhana…..” tiba-tiba aku mendengar alat deteksi jantung mama sudah tidak berjalan lagi dan saat itu aku menyadari mama telat pergi.
Setelah pemakaman mama selesai, aku membuka halaman terakhir dari diary mama
2 Februari 2013
“Farah hal yang membahagiakan untuk mama adalah memiliki kamu, kamu terus bernyanyi dan kamu berada dipangkuan mama. Farah, mama sayang sama kamu melebihi diri mama sendiri tapi mama tidak bisa mengungkapkan itu karena mama tau hal ini pasti terjadi, mama akan pergi meninggalkanmu, tapi satu pesan mama cinta itu harus diungkapkan, agar kamu tau bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang jangan seperti mama yang terlalu takut kehilangan kamu karena terlalu menyayangi kamu, dankamu selalu menjadi yang terbaik untuk mama”
Setelah itu aku tahu, mama bagian terpenting hidupku, panutan hidupku dan cintaku untuk mama akan abadi.
Kamis, 12 November 2015
Just Be Perfect In Another Way
Cantik, pintar, kaya, idaman
para laki-laki dan juga memiliki keluarga yang sangat menyayangiku. Ya, itulah
kehidupanku yang sangat sempurna, semua orang iri padaku dan aku bahagia karena
itu. Mama dan papa ku menjadikanku anak satu-satunya yang mereka sayang, apapun
yang ku minta pasti akan terkabul, menjadi bagian dari keluarga yang penuh
cinta membuatku berfikir akulah gadis terberuntung didunia ini.
Aku menuruni kecantikan dari
mama dan kepintaran dari papa, karena hal itu aku menjadi populer dikampus.
Setiap harinya ada sajalaki-laki yang ingin meminta nomor telefonku dan
mengajakku berkencan, tapi hanya orang tertentu saja yang bisa mengajakku
jalan. Pertama-tama dia harus pintar lalu harus tampan dan juga kaya. Aku harus
mencari laki-laki yang setara denganku agar bisa aku banggakan.
Tapi ada satu hal yang membuatku
tidak nyaman menjadi seorang yang populer, terkadang ada saja penggemar yang
tidak diinginkan yang datang setiap hari contohnya sigendut Ari, setiap hari
dia akan mengikutiku dikampus bahkan dia mengambil kelas yang sama denganku. Ahh! Ari itu benar-benar bukan tipeku,
mempunyai tubuh super gemuk dan agak bodoh.menyebalkan setiap kali bertemu
dengannya.
Hari ini aku memilikijadwal
kelas yang sama dengan si gendut itu, rasanya malas sekali berjalan menuju
kelas. Pasti sekarang Ary sedang menunggu didepan kelas dengan wajah bodohnya
itu dan benar saja Ary sedang berdiri didepan kelas sambil memeluk tasnya.
“Hai Tiara” sapa nya
“……”
“udah makan siang?” tanya nya
basa-basi
“….” Aku tidak ingin
menanggapinya karena semakin ditanggapi, Ary akan berfikir bahwa aku baik
dengannya.
“udah ngerjain tugas?” tanya nya
lagi.
Tunggu dulu, tugas? Apa ada
tugas hari ini, seingatku tidak ada tugas untuk hari ini “tugas apa ya?”
tanyaku ketus
“belum ngerjai ya? Yah kasian
deh” goda Ary berlalu pergi masuk kedalam kelas
Aduh, bagaimana ini bagaimana
aku tidak mengingat ada tugas. Ya sudahlah, baru sekali iniaku tidak
mengerjakan tugas pasti tidakakan berpengaruh apa-apa dengan nilaiku.
Beberapa lama kemudian dosen memasuki ruangan kelas, ruangan yang
tadinya ribut berubah menjadi hening. Dosen itu mengeluarkan beberapa buku dan
laptop dari dalam tas-nya “baiklah anak-anak, apakah kalian sudah mengerjakan
makalan yang saya tugaskan sebulan yang lalu?” tanya dosen itu “seperti yang
saya katakana sebulan yang lalu bagi yang tidak mengumpulkan tugas makalan tept
waktu maka dia akan mendapatkan nilai D dan harus mengulang kelas saya disemester
depan”
What!!!! Mengulang kelas? Bagaimana ini, aku segera mengambil
handphoneku didalam tas untuk menghubungi Leana sahabatku yang sudah lulus
tahun lalu, semoga saja dia masih menyimpan makala-makalah miliknya dulu jadi
aku dapat meminjamnya, tapi sepertinya ada yang aneh dengan tasku. Apa ini? Aku
mengeluarkan beberpa kertas yang sudah diclip, didepannya tertera namaku dan
matakuliah yang saat ini berlangsung. Siapa yang mengerjakan makalahku, aku
merasa aku tidak pernah membuat makalah ini. Aku memeriksa makalah tersebut dan
menurutku makalah ini cukup baik, sebaiknya aku kumpulkan saja dulu, urusan
siapa yang membuatnya belakangan.
Suasana kantin sangat ramai dan membuatku malas untuk mengantre sebaiknya
aku tunggu saja dulu disini sampai sepi. Aku duduk disalah satu meja sambil
memainkan handphoneku.Aku melihat ada satu pesan masuk ternyata undangan pesta ulangtahun
Brian.Brian adalah salah satu cowo yang sangat kusukai, dia tampan dan pintar.
Aku langsung berfikir apa yang aku pakai besok malam, aku harus bisa menarik
perhatian Brian dihari ulangtahunnya.
“Ra, gak makan?”
Aku mendongak kearah suara yang menegurku dan ternyata Ary lagi “lo
ngapain sih ngikutin gue terus, ngeliat lo aja gue udah gerah tau gak”
Ary tersenyum, laki-laki gendut ini memang bodoh “gue tadi beli makan dua
porsi yang satu udah gue makan tadi disana jadi sisa satu piring lagi, kalau lo
mau yang satunya buat lo aja”
“gak usah! Mana cukup perut
gentong lo itu makan satu piring” sindirku
“antrean masih panjang loh, ya
udah kalau ga……”
“siniin” aku merebut piring
makanan tersebut dari Ary “kalau gak antrean panjang gue gak akan makan makanan
lo”
“jadi gue boleh duduk disini gak
ra?” tanya Ary hati-hati
“ENGGA! Jauh-jauh lo dari gue”
benar kan kataku, sedikit aku menanggapinya, dia akan berfikir aku baik
terhadap dirinya.
Ary-pun pergi, aku benar-benar
berharap cowo gendut bodoh itu menghilang dari hidupku. dia benar-benar seperti
lalat, sangat mengganggu.
------------------------------------------------------------------------
Hari perayaan ulangtahun Bryan
akhirnya datang juga, aku berdandan secantik mungkin. Dress dengan potongan A
line bewarna hitam membaluti tubuhku, hiasan ringan diwajahku membuatku terlihat
semakin cantik.aku sangat yakin Bryan akan terrpesona melihatku dan akan
menyukaiku.
Aku berjalan menghampiri Bryan
yang berdiri dibalik kue ulangtahunnya. Laki-laki itu memang menawan, wajah
indonya mampu menyihirku. Dari kejauhan aku melihat Bryan tersenyumpadaku
sambil melambaikan tangan. Aku membalas lambaian tangannya.
“wow hari ini lo cantik banget
ra” puji Bryan
Aku tersipu malu, kubenarkan
sisi rambutku dan kuselipkan dikupingku agar Bryan bisa leluasa melihat wajahku
“makasih, btw happy birthday yah”
“iyah makasih yah ra, coba lo
gak deket sama Ary pasti udah lama gue deketin lo ra” ungkap Bryan
Wait, gue? Ary? “gue gak ada apa-apa sama Ary kok”
Bryan tertawa kecil “masa sih?
Ya semoga aja bener yah”
Aku mengangguk, mungkin karena
Ary selalu menemempel padaku dikampus makanya semua orang berfikir aku pacaran
dengannya. Tapi dimana logika semua orang,mereka berfikir seorang Tiara bisa
menyukai Ary? Ya jelas itu hal yang tidak mungkin.
Tiba-tiba ada seseorang yang
menyentuh pundakku,aku menoleh dan betapa terkejutnya aku melihat Ary sedang
berada dibelakangku. Pakaian apa yang dia kenakan, kemeja garis-garis dengan
suspender membuat dia seperti badut “ngapain lo disini? lo pikir lo lagi di
pesta badut pake baju kayak gitu?
Aku tahu Ary memaksakan
senyumnya kali ini “gue cuman mau ngasih ini” Ary memberikan bouquet bunga yang dari tadi dia simpat
dibalik punggungnya.
Semua orang berteriak heboh
mendukung Ary , aku melihat Bryan yang memasang wajah kecewa “maksud lo apa ry?” tanyaku
“hmmm gini ra……”
“denger yah ry, lo harusnya
sadar diri lo itu siapa dan gue siapa! Gue udah cukup sabar selama ini lo
nempel terus sama gue dan buat orang-orang berfikir kalau gue sama lo ada
hubungan spesial. Hahaha jangankan berfikiran punya hubungan spesial bahkan
buat kenal sama lo aja itu adalah suatu penyesalan buat gue. Lo sadar gak sih,
lo itu gendut, botak, bodoh dan lo harusnya sadar akan hal itu. Sekarang lo mau
ngelakuin hal kayak sekarang, emang lo pikir gue bakalan seneng? Denger
baik-baik yah Ry hal yang bikin gue bahagia sekarang adalah lo gak muncul lagi
dihadapan gue” aku melempar bunga yang diberikan Ary kedadanya
Ary berdiri terpaku, matanya
terlihat berair. Tanpa sepatah kata, Ary berbalik badan dan berjalan menjauh
dari hadapanku. Ternyata Ary tidak terlalu bodoh, dia mengerti apa yang
kukatakan untuk pergi dari hadapanku.
Sudah seminggu dari kejadian
dipesta itu,dari sejak itu aku tidak pernah melihat Ary dikampus. Aku tidak
merasa kehilangan sama sekali tapi hanya saja apakah dia tidak masuk kuliah
karena perkataanku malam itu? Banyak yang mengatakan bahwa aku sangat kejam
pada malam itu, dan banyak yang membenciku saat ini,mereka mengatakan bahwa aku
adalah penyebab Ary tidak pernah masuk kuliah.
Jujur aku penasaran apa yang
dilakukan cowo gendut itu sekarang, sebaiknya aku tanyakan pada temannya Ary
yaitu Rio. Rio saat ini sedang makan sendiri diujung kantin, rasanya aneh
melihat Rio makan sendiri karena biasanya ada Ary dihadapan Rio.
“hai Rio” sapaku
Rio mendongak, dan wajahnya
berubah menjadi masam melihat wajahku, yaw ajar saja karena aku baru saja
menyakiti hati sahabatnya tapi itu kan bukan kesalahanku.
“Rio lo tau sekarang Ary ada
dimana, emang bener yah Ary gak masuk kuliah karena gue?” tanyaku hati-hati
Alis Rio terangkat “kenapa lo
nanya-nanya soal Ary, bukannya harapan lo supaya dia menghilang dari hadapan
lo?”
“bukan gitu, cuman gue ngerasa
bersalah aja kalau emang itukarena gue”
“gak usah kepedean lo, Ary
sekarang jauh lebih baik” jawab Rio ketus sambil melnjutkan makannya.
“sukurlah kalau dia lebih baik
sekarang” ungkap ku
Rio meletakan sendoknya, dan
menarik nafasnya panjang-panjang lalu melihat kearahku “sebenernya mau lo itu
apa sih Ra?”
“gue cuman mau minta maaf, gue
sadar tingkah gue kemaren keterlaluan”
Rio tertawakecil seakan
meremehkanku “minta maaf? Telat lo!”
“maksud lo?”
Wajah Rio berubah muram “Ary
meninggal tiga hari yang lalu”
Tibatiba saja jantungku seperti
terkena petir “kenapa?”
Rio menundukan kepalanya “dia
kena kanker kelenjar getah bening dan asal lo tau aja tubuh yang sering lo
katain gendut itu adalah pengaruh obat yang dia minum. Sebelum ketemu sama lo,
dia gak punya semangat hidup karena kankernya udah stadium 4 dan kata dokter gak ada kemungkinan buat
Ary sembuh,obat hanya untuk memperpanjang nyawanya sekitar satu bulan dari
perkiraan dokter” Rio mendongakan
kepalanya menatapku “tapi setelah ketemu sama lo, dia seperti nemuin semangat
hidupnya lagi, dia mengagumi lo bukan karena kecantikan, kepintaran atau
kekayaan lo tapi kebaikan hati lo”
“kebaikan hati?” aku tidak
pernah berbuat baik pada Ary satu kalipun tidak pernah.
Rio kembali menarik sisi
bibirnya tersenyum sinis “gue tau lo gak pernah baik sama Ary, waktu itu dia
cerita sama gue kalau ada seorang cewe yang setiap hari minggu dateng ke
yayasan kanker anak-anak dimana Ary juga pasien disana, wanita tersebut
menghibur anak-anak kecil dan membawakan mereka buku cerita dan wanita itu elo,
ra. Walaupun lo gak pernah baik sama Ary tapi sebenernya Ary tau kalau lo cewe
baik”
Entahlah, air mataku tanpa
kusadari tumpah begitu saja. Apa aku sekarang sedang menyesal.
“lo inget makalah yang ada ditas
lo? Itu yang ngerjain Ary, karena dia tau lo gak tau ada tugas itu soalnya lo
gak masuk waktu tugas itu dikasih dan anak-anak kelas gak ada yang mau kasih
tau lo soalnya anak-anak kelas termasuk Bryan pada benci sama lo karena lo
terlalu sombong jadi mereka berencana untuk gak ngasih tau tugas itu ke elo dan
akhirnya Ary yang ngerjain makalah lo, dan inget pas dia ngasih makanan karena
lo gak mau ngantri, waktu itu dia belum makan sama sekali bahkan dia minum obat
tanpa makan dulu” ungkap Rio
“apa Ary benar-benar meninggal?”
tanyaku, aku berharap Ary tidak benar-benar
meninggal sehingga aku masih bisa mengucapkan maaf sebelum kepergiannya
Rio mengangguk lesu “dia udah
ninggalin kita Ra, sebenernya malam ulangtahun Bryan adalah malam
keberangkatannya ke Singapur untuk stay
disana dan menjalani pengobatan, Ary bukan orang kaya dan dia seorang yatim
piatu, dia mendapatkan biaya medis keSingapur dari seorang donatur dari yayasan
kanker tersebut. Dan lo inget kan bunga yang dikasih ke lo waktu itu? Yang lo
lempar seenaknya? Itu adalah hasil dia menabung selama tiga bulan, malam itu
dia hanya inginmengatakan perasaannya tanpa berharap lo bakalan membalas cinta
dia atau engga, dia takut setelah keberangkatannya ke Singapur, dia gak bakalan
bisa ketemu lo lagi dan ngasih tau perasaannya ke elo. Ternyata bener, dia
pergi tanpa bisa mengungkapkan perasaannya ke elo”
Aku menutup wajahku menahan isak
tangisku. Sejahat itu kah aku selama ini? Semua kesempurnaan yang kudapat
membuatku lupa untuk menghargai cinta yang orang-orang berikan terhadapku dan
membuatku bertindak semaunya.
Aku berlutut dihadapan makam Ary “Maafin gue
Ry, bahkan didetik lo meninggal, gue bikin kesedihan dihari-hari terakhir lo,
makasih udah berkorban buat gue dan maaf gue gak bisa balas semua kebaikan lo.
Makasih lo udah bikin sadar betapa sombong nya gue, Ry kalau aja gue tau lebih
cepat tentang lo,mungkin gue bakalan buat hari-hari terakhir lo bahagia. Tanpa
gue sadarin ternyata gue kangen marah-marah karena lo selalu ngikutin gue dulu
Ry, ternyata gue baru sadar ada hal-hal baik yang gak gue hargain. Makasih Ry, Makasih
dan maaf cuman itu yang bisa gue ucapin sekarang”
Note : semua orang ingin menjadi sempurna,
kehidupan sempurna, fisik sempurna namun kesempurnaan itu akan hilang jika kita
tidak bisa menyempurnakan hati kita.
Label:
ceritapendek.,
inspiringstory,
sad,
sadstory
Langganan:
Postingan (Atom)