Cantik, pintar, kaya, idaman
para laki-laki dan juga memiliki keluarga yang sangat menyayangiku. Ya, itulah
kehidupanku yang sangat sempurna, semua orang iri padaku dan aku bahagia karena
itu. Mama dan papa ku menjadikanku anak satu-satunya yang mereka sayang, apapun
yang ku minta pasti akan terkabul, menjadi bagian dari keluarga yang penuh
cinta membuatku berfikir akulah gadis terberuntung didunia ini.
Aku menuruni kecantikan dari
mama dan kepintaran dari papa, karena hal itu aku menjadi populer dikampus.
Setiap harinya ada sajalaki-laki yang ingin meminta nomor telefonku dan
mengajakku berkencan, tapi hanya orang tertentu saja yang bisa mengajakku
jalan. Pertama-tama dia harus pintar lalu harus tampan dan juga kaya. Aku harus
mencari laki-laki yang setara denganku agar bisa aku banggakan.
Tapi ada satu hal yang membuatku
tidak nyaman menjadi seorang yang populer, terkadang ada saja penggemar yang
tidak diinginkan yang datang setiap hari contohnya sigendut Ari, setiap hari
dia akan mengikutiku dikampus bahkan dia mengambil kelas yang sama denganku. Ahh! Ari itu benar-benar bukan tipeku,
mempunyai tubuh super gemuk dan agak bodoh.menyebalkan setiap kali bertemu
dengannya.
Hari ini aku memilikijadwal
kelas yang sama dengan si gendut itu, rasanya malas sekali berjalan menuju
kelas. Pasti sekarang Ary sedang menunggu didepan kelas dengan wajah bodohnya
itu dan benar saja Ary sedang berdiri didepan kelas sambil memeluk tasnya.
“Hai Tiara” sapa nya
“……”
“udah makan siang?” tanya nya
basa-basi
“….” Aku tidak ingin
menanggapinya karena semakin ditanggapi, Ary akan berfikir bahwa aku baik
dengannya.
“udah ngerjain tugas?” tanya nya
lagi.
Tunggu dulu, tugas? Apa ada
tugas hari ini, seingatku tidak ada tugas untuk hari ini “tugas apa ya?”
tanyaku ketus
“belum ngerjai ya? Yah kasian
deh” goda Ary berlalu pergi masuk kedalam kelas
Aduh, bagaimana ini bagaimana
aku tidak mengingat ada tugas. Ya sudahlah, baru sekali iniaku tidak
mengerjakan tugas pasti tidakakan berpengaruh apa-apa dengan nilaiku.
Beberapa lama kemudian dosen memasuki ruangan kelas, ruangan yang
tadinya ribut berubah menjadi hening. Dosen itu mengeluarkan beberapa buku dan
laptop dari dalam tas-nya “baiklah anak-anak, apakah kalian sudah mengerjakan
makalan yang saya tugaskan sebulan yang lalu?” tanya dosen itu “seperti yang
saya katakana sebulan yang lalu bagi yang tidak mengumpulkan tugas makalan tept
waktu maka dia akan mendapatkan nilai D dan harus mengulang kelas saya disemester
depan”
What!!!! Mengulang kelas? Bagaimana ini, aku segera mengambil
handphoneku didalam tas untuk menghubungi Leana sahabatku yang sudah lulus
tahun lalu, semoga saja dia masih menyimpan makala-makalah miliknya dulu jadi
aku dapat meminjamnya, tapi sepertinya ada yang aneh dengan tasku. Apa ini? Aku
mengeluarkan beberpa kertas yang sudah diclip, didepannya tertera namaku dan
matakuliah yang saat ini berlangsung. Siapa yang mengerjakan makalahku, aku
merasa aku tidak pernah membuat makalah ini. Aku memeriksa makalah tersebut dan
menurutku makalah ini cukup baik, sebaiknya aku kumpulkan saja dulu, urusan
siapa yang membuatnya belakangan.
Suasana kantin sangat ramai dan membuatku malas untuk mengantre sebaiknya
aku tunggu saja dulu disini sampai sepi. Aku duduk disalah satu meja sambil
memainkan handphoneku.Aku melihat ada satu pesan masuk ternyata undangan pesta ulangtahun
Brian.Brian adalah salah satu cowo yang sangat kusukai, dia tampan dan pintar.
Aku langsung berfikir apa yang aku pakai besok malam, aku harus bisa menarik
perhatian Brian dihari ulangtahunnya.
“Ra, gak makan?”
Aku mendongak kearah suara yang menegurku dan ternyata Ary lagi “lo
ngapain sih ngikutin gue terus, ngeliat lo aja gue udah gerah tau gak”
Ary tersenyum, laki-laki gendut ini memang bodoh “gue tadi beli makan dua
porsi yang satu udah gue makan tadi disana jadi sisa satu piring lagi, kalau lo
mau yang satunya buat lo aja”
“gak usah! Mana cukup perut
gentong lo itu makan satu piring” sindirku
“antrean masih panjang loh, ya
udah kalau ga……”
“siniin” aku merebut piring
makanan tersebut dari Ary “kalau gak antrean panjang gue gak akan makan makanan
lo”
“jadi gue boleh duduk disini gak
ra?” tanya Ary hati-hati
“ENGGA! Jauh-jauh lo dari gue”
benar kan kataku, sedikit aku menanggapinya, dia akan berfikir aku baik
terhadap dirinya.
Ary-pun pergi, aku benar-benar
berharap cowo gendut bodoh itu menghilang dari hidupku. dia benar-benar seperti
lalat, sangat mengganggu.
------------------------------------------------------------------------
Hari perayaan ulangtahun Bryan
akhirnya datang juga, aku berdandan secantik mungkin. Dress dengan potongan A
line bewarna hitam membaluti tubuhku, hiasan ringan diwajahku membuatku terlihat
semakin cantik.aku sangat yakin Bryan akan terrpesona melihatku dan akan
menyukaiku.
Aku berjalan menghampiri Bryan
yang berdiri dibalik kue ulangtahunnya. Laki-laki itu memang menawan, wajah
indonya mampu menyihirku. Dari kejauhan aku melihat Bryan tersenyumpadaku
sambil melambaikan tangan. Aku membalas lambaian tangannya.
“wow hari ini lo cantik banget
ra” puji Bryan
Aku tersipu malu, kubenarkan
sisi rambutku dan kuselipkan dikupingku agar Bryan bisa leluasa melihat wajahku
“makasih, btw happy birthday yah”
“iyah makasih yah ra, coba lo
gak deket sama Ary pasti udah lama gue deketin lo ra” ungkap Bryan
Wait, gue? Ary? “gue gak ada apa-apa sama Ary kok”
Bryan tertawa kecil “masa sih?
Ya semoga aja bener yah”
Aku mengangguk, mungkin karena
Ary selalu menemempel padaku dikampus makanya semua orang berfikir aku pacaran
dengannya. Tapi dimana logika semua orang,mereka berfikir seorang Tiara bisa
menyukai Ary? Ya jelas itu hal yang tidak mungkin.
Tiba-tiba ada seseorang yang
menyentuh pundakku,aku menoleh dan betapa terkejutnya aku melihat Ary sedang
berada dibelakangku. Pakaian apa yang dia kenakan, kemeja garis-garis dengan
suspender membuat dia seperti badut “ngapain lo disini? lo pikir lo lagi di
pesta badut pake baju kayak gitu?
Aku tahu Ary memaksakan
senyumnya kali ini “gue cuman mau ngasih ini” Ary memberikan bouquet bunga yang dari tadi dia simpat
dibalik punggungnya.
Semua orang berteriak heboh
mendukung Ary , aku melihat Bryan yang memasang wajah kecewa “maksud lo apa ry?” tanyaku
“hmmm gini ra……”
“denger yah ry, lo harusnya
sadar diri lo itu siapa dan gue siapa! Gue udah cukup sabar selama ini lo
nempel terus sama gue dan buat orang-orang berfikir kalau gue sama lo ada
hubungan spesial. Hahaha jangankan berfikiran punya hubungan spesial bahkan
buat kenal sama lo aja itu adalah suatu penyesalan buat gue. Lo sadar gak sih,
lo itu gendut, botak, bodoh dan lo harusnya sadar akan hal itu. Sekarang lo mau
ngelakuin hal kayak sekarang, emang lo pikir gue bakalan seneng? Denger
baik-baik yah Ry hal yang bikin gue bahagia sekarang adalah lo gak muncul lagi
dihadapan gue” aku melempar bunga yang diberikan Ary kedadanya
Ary berdiri terpaku, matanya
terlihat berair. Tanpa sepatah kata, Ary berbalik badan dan berjalan menjauh
dari hadapanku. Ternyata Ary tidak terlalu bodoh, dia mengerti apa yang
kukatakan untuk pergi dari hadapanku.
Sudah seminggu dari kejadian
dipesta itu,dari sejak itu aku tidak pernah melihat Ary dikampus. Aku tidak
merasa kehilangan sama sekali tapi hanya saja apakah dia tidak masuk kuliah
karena perkataanku malam itu? Banyak yang mengatakan bahwa aku sangat kejam
pada malam itu, dan banyak yang membenciku saat ini,mereka mengatakan bahwa aku
adalah penyebab Ary tidak pernah masuk kuliah.
Jujur aku penasaran apa yang
dilakukan cowo gendut itu sekarang, sebaiknya aku tanyakan pada temannya Ary
yaitu Rio. Rio saat ini sedang makan sendiri diujung kantin, rasanya aneh
melihat Rio makan sendiri karena biasanya ada Ary dihadapan Rio.
“hai Rio” sapaku
Rio mendongak, dan wajahnya
berubah menjadi masam melihat wajahku, yaw ajar saja karena aku baru saja
menyakiti hati sahabatnya tapi itu kan bukan kesalahanku.
“Rio lo tau sekarang Ary ada
dimana, emang bener yah Ary gak masuk kuliah karena gue?” tanyaku hati-hati
Alis Rio terangkat “kenapa lo
nanya-nanya soal Ary, bukannya harapan lo supaya dia menghilang dari hadapan
lo?”
“bukan gitu, cuman gue ngerasa
bersalah aja kalau emang itukarena gue”
“gak usah kepedean lo, Ary
sekarang jauh lebih baik” jawab Rio ketus sambil melnjutkan makannya.
“sukurlah kalau dia lebih baik
sekarang” ungkap ku
Rio meletakan sendoknya, dan
menarik nafasnya panjang-panjang lalu melihat kearahku “sebenernya mau lo itu
apa sih Ra?”
“gue cuman mau minta maaf, gue
sadar tingkah gue kemaren keterlaluan”
Rio tertawakecil seakan
meremehkanku “minta maaf? Telat lo!”
“maksud lo?”
Wajah Rio berubah muram “Ary
meninggal tiga hari yang lalu”
Tibatiba saja jantungku seperti
terkena petir “kenapa?”
Rio menundukan kepalanya “dia
kena kanker kelenjar getah bening dan asal lo tau aja tubuh yang sering lo
katain gendut itu adalah pengaruh obat yang dia minum. Sebelum ketemu sama lo,
dia gak punya semangat hidup karena kankernya udah stadium 4 dan kata dokter gak ada kemungkinan buat
Ary sembuh,obat hanya untuk memperpanjang nyawanya sekitar satu bulan dari
perkiraan dokter” Rio mendongakan
kepalanya menatapku “tapi setelah ketemu sama lo, dia seperti nemuin semangat
hidupnya lagi, dia mengagumi lo bukan karena kecantikan, kepintaran atau
kekayaan lo tapi kebaikan hati lo”
“kebaikan hati?” aku tidak
pernah berbuat baik pada Ary satu kalipun tidak pernah.
Rio kembali menarik sisi
bibirnya tersenyum sinis “gue tau lo gak pernah baik sama Ary, waktu itu dia
cerita sama gue kalau ada seorang cewe yang setiap hari minggu dateng ke
yayasan kanker anak-anak dimana Ary juga pasien disana, wanita tersebut
menghibur anak-anak kecil dan membawakan mereka buku cerita dan wanita itu elo,
ra. Walaupun lo gak pernah baik sama Ary tapi sebenernya Ary tau kalau lo cewe
baik”
Entahlah, air mataku tanpa
kusadari tumpah begitu saja. Apa aku sekarang sedang menyesal.
“lo inget makalah yang ada ditas
lo? Itu yang ngerjain Ary, karena dia tau lo gak tau ada tugas itu soalnya lo
gak masuk waktu tugas itu dikasih dan anak-anak kelas gak ada yang mau kasih
tau lo soalnya anak-anak kelas termasuk Bryan pada benci sama lo karena lo
terlalu sombong jadi mereka berencana untuk gak ngasih tau tugas itu ke elo dan
akhirnya Ary yang ngerjain makalah lo, dan inget pas dia ngasih makanan karena
lo gak mau ngantri, waktu itu dia belum makan sama sekali bahkan dia minum obat
tanpa makan dulu” ungkap Rio
“apa Ary benar-benar meninggal?”
tanyaku, aku berharap Ary tidak benar-benar
meninggal sehingga aku masih bisa mengucapkan maaf sebelum kepergiannya
Rio mengangguk lesu “dia udah
ninggalin kita Ra, sebenernya malam ulangtahun Bryan adalah malam
keberangkatannya ke Singapur untuk stay
disana dan menjalani pengobatan, Ary bukan orang kaya dan dia seorang yatim
piatu, dia mendapatkan biaya medis keSingapur dari seorang donatur dari yayasan
kanker tersebut. Dan lo inget kan bunga yang dikasih ke lo waktu itu? Yang lo
lempar seenaknya? Itu adalah hasil dia menabung selama tiga bulan, malam itu
dia hanya inginmengatakan perasaannya tanpa berharap lo bakalan membalas cinta
dia atau engga, dia takut setelah keberangkatannya ke Singapur, dia gak bakalan
bisa ketemu lo lagi dan ngasih tau perasaannya ke elo. Ternyata bener, dia
pergi tanpa bisa mengungkapkan perasaannya ke elo”
Aku menutup wajahku menahan isak
tangisku. Sejahat itu kah aku selama ini? Semua kesempurnaan yang kudapat
membuatku lupa untuk menghargai cinta yang orang-orang berikan terhadapku dan
membuatku bertindak semaunya.
Aku berlutut dihadapan makam Ary “Maafin gue
Ry, bahkan didetik lo meninggal, gue bikin kesedihan dihari-hari terakhir lo,
makasih udah berkorban buat gue dan maaf gue gak bisa balas semua kebaikan lo.
Makasih lo udah bikin sadar betapa sombong nya gue, Ry kalau aja gue tau lebih
cepat tentang lo,mungkin gue bakalan buat hari-hari terakhir lo bahagia. Tanpa
gue sadarin ternyata gue kangen marah-marah karena lo selalu ngikutin gue dulu
Ry, ternyata gue baru sadar ada hal-hal baik yang gak gue hargain. Makasih Ry, Makasih
dan maaf cuman itu yang bisa gue ucapin sekarang”
Note : semua orang ingin menjadi sempurna,
kehidupan sempurna, fisik sempurna namun kesempurnaan itu akan hilang jika kita
tidak bisa menyempurnakan hati kita.
0 komentar:
Posting Komentar